Tuesday, August 31, 2004

Jangan ragu tuk berlalu

Bawa pergi saja asamu!
Kamu tau aku tak mau
Apalagi menjamu

Bawa pergi saja rasamu!
Kamu tak kenal aku
Yang kamu tahu itu semu

Jemu aku padamu!
Harusnya kamu malu
Bukannya mau

Apa perlu kulempar palu?
Hingga kamu tak lagi memburu

Saturday, August 21, 2004

Malu-malu tapi mau

Menurut orang yang aku cari adalah vacancy
Padahal yang aku inginkan sekedar pakansi
Supaya bisa kembali berfantasi

Mungkin orang sudah kehilangan akal sehat
Gak heran mereka juga butuh rehat
Supaya enggak lagi tersesat

Tak mau lagi terburu-buru
Lagian usia tidak mampu lagi dimadu
Tanpa disadari sudah di hulu
Namun tetap meragu

Uh, malu!

Wednesday, August 18, 2004

Ekstase; bukan mimpi

Sekedar pemikiran primitif di dunia instant....
Ecstasy; kegembiraan yang luar biasa
Kata orang-orang kehidupan semakin lama semakin modern, semua serba instan. Termasuk didalamnya kegembiraan; yang semoga tetap bisa luar biasa. Maka kemudian berkat otak manusia yang terus berevolusi hingga katanya menjadi semakin cerdas, terciptalah ramuan kimia yang menurut mereka ekstase luar biasa itu menjadi mudah sekali dinikmati. Mungkin para penikmatnya sudah sama putus asanya dengan pembuatnya, bagaimana rumusan yang harus dibuat hingga tubuh dan pikiran mereka merasakan kegembiraan yang meluap-luap. Dan lagi-lagi otak instant yang bekerja.
Menurut sejarah, pencarian rumusan ekstase itu terus bergulir bersama jaman. Lewat ritual, tarian, perjalanan spritual, tradisi, bahkan bercinta. Rasanya Tuhan menginginkan manusia untuk mencari ekstase dalam hidupnya, dan merasakannya meskipun hanya sekali. Maka kemudian Tuhan menciptakan tubuh manusia untuk dapat menghasilkan ekstasi sendiri, yaitu dengan menghasilkan amphetamin alami.
Namun apa substansi sesungguhnya dari ekstasi itu sendiri?
Dengan keterbatasan otak yang bergumul dengan kantuk di tengah malam buta kemarin, muncul sesuatu yang kiranya menarik pemahaman saya. Bahwa ritual yang diajarkan lewat agama-agama Tuhan tak lain tak bukan adalah rumusan untuk mencapai ekstase. Karena subtansi ekstase itu sendiri adalah proses atau ritual yang dilalui untuk mencapainya. Maka sudah dapat dikatakan ekstase tidak mungkin didapatkan melalui proses instant, layaknya yang sering dilakukan manusia modern dengan pil ekstasinya.
Maka menurut pemikiran sang pengangguran ini, inti utama ekstase yang semestinya dialami manusia, sesungguhnya adalah peristiwa kecintaan ciptaan terhadap penciptanya, manusia kepada Tuhannya. Berupa proses bersatunya sang pencipta dan ciptaanya, sehingga menghasilkan ekstase yang luar biasa, berupa ekstasi yang absolut. Karena itulah Dia menciptakan Agama beserta ritualnya sebagai alat. Meskipun begitu, tetap sulit membuatnya ke dalam rumusan yang pasti.
Kini ekstasi didefinisikan begitu mudah, kehilangan substansi, dan tidak bermakna. Katanya dapat dihasilkan melalui proses kreativitas manusia yang merasa dirinya seniman. Katanya dapat dinikmati manusia modern yang haus kegembiraan dengan hanya menenggak ramuan kimia.
Manusia instant yang cepat sekali terpuaskan.
Bukti bahwa produk modern tidak selalu lebih bermutu dari produk primif...
*inspired from The Pilgrimage by Paulo Coelho

Wednesday, August 04, 2004

I'm only a human

when people made a mistake
they always said "i'm only a human"

yes, human make mistakes
yes, human is failable

but when they made an achievement
they don't said "i'm only a human"
why?



*Inspired from the movie "The United States Of Leland"

Tuesday, August 03, 2004

Kalau sudah tidak ada pilihan?

gue selalu bilang, hidup itu soal bagaimana kita memilih dan mempertanggungjawabkannya
tapi siang kemarin dari mulut gue keluar omongan spt ini:
"ah, mereka pilih-pilih kan karena tuhan masih menakdirkan mereka dengan keadaan yang berkecukupan. Kalo rejeki mereka tidak sebaik itu, dan sudah tidak ada pilihan, mereka mau tak mau akan memakan apapun itu untuk survive"

Dan gue jadi mengingat kata-kata mas sam,"hidup itu gak bisa memilih li. krn itu yg namanya destiny"
hmmm...jangan-jangan apa kata mas sam ada benernya juga

ketika hidup sudah tidak bisa memilihyang bisa dilakukan hanya menjalankannyauntuk tetap bisa survivehingga akhirnya pilihan datang lagimungkin lebih tepat seperti itu